PAN: Prabowo dan Ketum Parpol Kumpul Semalam Bahas RUU Pemilu

Jakarta – Sederet ketum parpol mulai dari Prabowo Subianto hingga Zulkifli Hasan diam-diam berkumpul semalam. Mereka membahas soal RUU Pemilu yang hari ini masuk ke agenda pengambilan keputusan sejumlah isu krusial.

“Mengupayakan proses musyawarah mufakat. Kedua, lebih mengutamakan kebersamaan sebagai parpol. Apa itu? Saling tenggang rasa dengan membuat RUU pemilu yang mampu akomodasi seluruh kepentingan parpol yang berbeda jumlah kursinya di DPR,” ujar Waketum PAN, Viva Yoga Mauladi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakpus, Kamis (8/6/2017).

Viva membenarkan bahwa pertemuan itu dihadiri sederet ketum dan petinggi partai. Tokoh yang hadir mulai dari Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Hanura Oesman Sapta, Ketum PPP Romahamurmuziy, Presiden PKS Sohibul Iman, dan Ketua Fraksi Demokrat Eddhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Mereka bertemu di kediaman Zulkifli Hasan.

Isu krusial yang belum mencapai kata sepakat di Pansus RUU Pemilu mulai dari ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold), ambang batas parlemen (parliamentary threshold), hingga sistem Pemilu. Pagi tadi rapat sudah dibuka namun kini masih dalam skors karena lobi-lobi yang alot.

“Misalnya penerapan parliamentary threshold. Kalau semakin tinggi, bagaimana parpol yang memiliki jumlah kursi rendah. Kira-kira lolos apa nggak? Itu dalam rangka memperkuat sistem presidensial,” sambung Viva.

Soal sistem pemilu, ada tiga opsi yang masih diperdebatkan. Ketiganya adalah proporsional terbuka, proporsional tertutup, dan proporsional terbuka terbatas.

Hingga siang tadi, ada 4 fraksi yang menyepakati sistem proporsional terbuka. Empat fraksi itu adalah Gerindra, PAN, PKS, dan NasDem.
(dkp/imk)

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-3524538/pan-prabowo-dan-ketum-parpol-kumpul-semalam-bahas-ruu-pemilu?_ga=2.118177353.197352117.1496935829-1710497366.1431869215

Advertisements

SMRC: Elektabilitas PDIP 21,7%, Gerindra 9,3%, dan Golkar 9%

Jakarta – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan diprediksi memenangi Pemilu 2019 dengan elektabilitas 21,7 persen. Gerindra menempati urutan kedua dengan 9,3 persen lalu disusul oleh Golkar 9 persen.

Begitulah hasil survei Lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tentang pemilihan partai politik jika dilakukan secara top of mind. Peneliti senior SMRC Djayadi Hanan mengatakan duduknya PDIP di peringkat teratas menunjukkan pilkada DKI 2017 lalu tidak berpengaruh terhadap perpolitikan nasional.

Dari hasil survei SMRC terlihat elektabilitas Jokowi tetap stabil dan Gerindra mulai meningkat. “Kalau Pilkada DKI berpengaruh, seharusnya PDIP turun, Gerindra naik. Tapi ini sama-sama naik. Dengan kata lain, Pilkada DKI tidak mengubah dukungan terhadap partai. PDIP bisa saja, kalau tidak ada perubahan yang signifikan, peta dukungan terhadap PDIP stabil, kecuali Gerindra,” kata Djayadi saat memaparkan hasil survei SMRC di Jalan Cisadane Nomor 8, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (8/6/2017).

Menurut dia, dukungan pada PDIP stabil karena faktor figur Jokowi. Masyarakat yang memilih PDIP umumnya sudah lekat dengan figur Jokowi, sehingga berdampak pada elektabilitas PDIP.

Hal itu sama dengan yang terjadi pada 2009 saat Partai Demokrat memenangi pemilu karena faktor nama Susilo Bambang Yudhoyono. “Hal yang sama terjadi seperti Demokrat. Saat itu SBY jadi, itu kemungkinan besar menjelaskan karena partai-partai itu memiliki tokoh, mengapa penilaian terhadap Jokowi stabil. Maka wajar tingkat kepuasan masyarakat kepada Jokowi menjadi positif pada akhirnya berpengaruh pada partai PDIP, termasuk dukungan Prabowo pada Gerindra,” jelas Djayadi.

“Yang potensial bisa mendekati posisi PDIP adalah Gerindra karena dia punya tokoh, tapi tantangannya tingkat elektabilitas Pak Prabowo jauh di bawah Jokowi,” sambungnya.

Survei ini dapat menjawab berubah atau tidaknya dukungan masyarakat ketika Pilkada DKI maupun sesudah pilkada dilakukan. Menurut Djayadi, Pilkada DKI tidak mengubah peta dukungan massa dalam hal politik nasional menjelang pemilu dan pilpres 2018 dan 2019.

“Survei nasional sebelum dan sesudah Pilkada DKI dapat menjawab pertanyaan banyak pihak, apakah hasil Pilkada DKI mengubah peta dukungan massa dalam politik nasional menjelang pemilu dan pilpres, jawabannya tidak,” tutupnya.
(cim/erd)
Sumber : https://news.detik.com/berita/d-3524838/smrc-elektabilitas-pdip-217-gerindra-93-dan-golkar-9?_ga=2.48454118.197352117.1496935829-1710497366.1431869215&_ga=2.48454118.197352117.1496935829-1710497366.1431869215