‘Tentukan Arah’ Juga Jadi Materi Baru Barasuara

Jakarta – Selain ‘Samara’ dan ‘Masa Mesiah Mesiah’, Barasuara juga menyiapkan sebuah lagu berjudul ‘Tentukan Arah’.

Rencananya, lagu baru ini juga akan turut menjadi materi di album kedua Barasuara nantinya. Lagu tersebut pun masih membicarakan tema yang sama dengan lagu ‘Masa Mesiah Mesiah’.

“Kalau itu sebenernya kayak tentang masih dalam kondisi yang sama dengan ‘Masa Mesiah Mesiah’,” ungkap Iga Massardi di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Senin (6/7/2017).

Melalui lirik ‘Tentukan Arah’, Barasuara juga ingin menyampaikan pesan.

“Liriknya, ‘Tentukan arah, rendam amarah’, jadi kayak lo tuh bakal gampang diadu domba kalau lo nggak bisa nentuin apa yang lo pengin dan berdasarkan dari situ lo bakal gampang dicecoki sama paham entah itu membenci orang lain, memisahkan diri, merasa paling benar,” ungkap Iga.

Iga Massardi menambahkan, “Jadi ya sebaiknya lo punya pendirian untuk bisa tentukan apa yang lo pengin dan jangan marah-marah dulu kalau emang lo punya satu opini pemikiran. Jadi lo harus bisa ngelihat sesuatu lebih luas intinya”.

Sejauh ini, Barasuara memang telah menyiapkan sejumlah materi untuk album barunya mendatang. Hanya saja, baru tiga lagu tersebut yang dibawakan di hadapan pendengar mereka.

“Yang baru dibawain memang baru 3 lagu ini ya,” ungkap Gerald Situmorang.
(srs/dar)

Sumber: https://hot.detik.com/music/d-3521501/tentukan-arah-juga-jadi-materi-baru-barasuara?_ga=2.115423558.197352117.1496935829-1710497366.1431869215

Advertisements

Pancasila, Ruang Kosong, dan Kealpaan Negara

Jakarta – Apa yang tersisa, yang masih dapat kita renungkan dari momen 1 Juni kemarin, yang dirayakan dengan gegap gempita di sosmed dengan aneka hashtag sebagai Hari Lahir Pancasila? Tentunya banyak hal, banyak aspek yang dapat kita renungkan.

Bagi saya jawaban atas penyataan tersebut adalah “krisis identitas”. Anak bangsa yang seharusnya menjadi penerus dan generasi harapan ke depan, mengalami kegamangan eksistensial. Ada ruang kosong dalam pikiran dan hati mereka, dan banyak pertanyaan yang hadir. Siapa saya? Untuk apa saya ada? Dan, bagaimana saya hidup berbangsa.

Negara alpa untuk mengisi ruang kosong mereka. Negara tidak mengambil bagian untuk mengisi kekosongan itu. Harusnya negara hadir di sana, dan tentunya dengan nilai-nilai kebangsaan, yakni nilai-nilai Pancasila. Jiwa haus anak bangsa memaksa mereka harus menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya pencarian mereka diisi dengan nilai primordial. Nilai-nilai tersebut mengkristal dan menjadi keyakinan kebenaran yang dibawa ke ruang-ruang publik, yang tentunya akan terjadi benturan-benturan keyakinan. Semua merasa benar; di sini sekat-sekat kesatuan dibongkar, tentunya hal ini merapuhkan persatuan.

Benturan tersebut semakin tajam ketika keberadaan anak bangsa dikungkung oleh dominasi yang canggih di babak era teknologi informasi; internet dengan sosial medianya seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Semua itu telah mencungkil mereka keluar dari konteks komunitas kebangsaannya.

Mereka dilemparkan ke mana-mana dan di mana-mana oleh opini-opini. Mereka tak sadar siapa sebenarnya konteks komunitas pembuatnya dan tujuan pembuatnya. Mereka seakan mendengar dan memahami, tapi apa yang didengar dan dipahami semakin mengaburkan eksistensi mereka.

Bahkan yang ironis, sebagian dari mereka dipermainkan oleh opini-opini dan terus berpindah dari satu opini ke opini yang lain. Menjadi generasi nomaden, yang tak tahu siapa diri mereka. Hal ini persis seperti pemikiran Heidegger sebagaimana digambarkan F. Budi Hardiman.

Di sisi lain, pemerintah terlalu sibuk dengan pembangunan infrastruktur. Bumi Indonesia diisi dengan beton-beton pencakar langit. Jalan-jalan yang lapang. Jembatan-jembatan nan kokoh. Waduk-waduk yang sangat besar. Dan, transportasi di dalam tanah.

Pertumbuhan ekonomi dipastikan meningkat, tingkat kemiskinan pun akan semakin kecil. Tapi, kesenjangan bisa saja semakin besar. Aktivitas pemerintah ini memang penting. Tapi, kehadirannya tampak tidak diikuti dengan pembangunan nilai dan karakter.

Akhirnya diri anak bangsa menjadi tandus, dan kegamangan eksistensial pun hadir. Mereka berada dalam dunia mimpi fatamorgana.

Wajah Orde Baru, yang dihias dengan Pancasila, harus kita akui terbukti mampu membenamkan nilai bagi anak bangsa ini. Walaupun cara memberhalakannya salah arah. Kebencian atas kesalahan tersebut, jangan disikapi dengan penolakan terhadap Pancasila.

Dosa Orde Baru tentunya bukan salah Pancasila. BP7 yang dihasilkan melalu Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 1979 menjadi tukang besi yang memukul dan menempa cara berpikir tunggal ala mereka. Cara tersebut tentunya harus dikoreksi, cara yang lebih humanis dan emansipatif layak dipikirkan.

Apa kita tidak merasa ironis dan miris ketika siswa-siswi sudah lupa sila-sila Pancasila? Mereka hanya mampu menghapal sila pertama. Itu, baru menghafal bagaimana dengan memahaminya?

Kesadaran pun akhirnya hadir menjelang hari lahirnya Pancasila yang ke-72. Pemerintah telah menandatangani Perpres 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Secara normatif dalam Perpres badan tersebut, tugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila dan melaksanakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Langkah Pemerintah ini memang patut diapresiasi. Tapi, apakah badan tersebut dapat mengisi ruang kosong dalam jiwa anak bangsa Indonesia? Masih banyak pekerjaan rumah.

Kita tinggal menunggu langkah-langkah nyata badan tersebut. Menelisik tantangan faktual hari ini, momen hari lahirnya Pancasila harus dapat diterjemahkan oleh lembaga tersebut sebagai kemampuan melahirkan “kembali” Pancasila. Lembaga ini harus mampu menanam nilai-nilai Pancasila dalam bumi persada Indonesia.

M Ilham Hermawan Wakil Ketua Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila

(mmu/mmu)

Suomber : https://news.detik.com/kolom/d-3521516/pancasila-ruang-kosong-dan-kealpaan-negara?_ga=2.115423558.197352117.1496935829-1710497366.1431869215

MUI Keluarkan Fatwa Penggunaan Medsos, Apa Saja yang Diharamkan?

Jakarta – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan media sosial (medsos). Ada beberapa poin yang diharamkan untuk dilakukan di medsos, salah satunya penyebaran permusuhan.

Dokumen fatwa itu dibacakan oleh Sekretaris MUI Asrorun Ni’am Sholeh dalam acara diskusi publik dan konferensi pers ‘Fatwa MUI Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Medsos’. Acara ini juga dihadiri oleh Ketum MUI Ma’ruf Amin serta Menkominfo Rudiantara.

“Setiap muslim yang bermuamalah (bersosialisasi) melalui medsos diharamkan untuk melakukan ghibah (penyampaian informasi spesifik ke suatu pihak yang tidak disukai), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan,” ujar Asrorun dalam acara yang berlangsung di kantor Kominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Senin (5/6/2017), itu.

Asrorun melanjutkan aksi bullying, ujaran kebencian, serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras, dan antargolongan juga diharamkan. Terlebih mengenai penyebaran hoax serta informasi bohong.

“Meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup, itu diharamkan,” kata Niam.

“Begitu juga dengan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i. Serta menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan waktunya juga dilarang,” tuturnya.

Lebih lanjut, Asrorun juga menyampaikan larangan memproduksi, menyebarkan, atau membuat dapat diaksesnya informasi yang tidak benar kepada masyarakat. Begitu juga menyebarkan konten hoax serta mencari-cari informasi mengenai aib, gosip, dan kejelekan orang lain.

“Memproduksi atau menyebarkan informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar hukumnya haram. Juga menyebarkan konten yang sifatnya pribadi ke khalayak padahal konten itu tidak patut juga haram,” katanya.

“Terakhir, aktivitas buzzer di medsos yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, dan hal lain yang sejenis sebagai profesi memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh atau mendukung jasa dan orang yang memfasilitasinya, juga diharamkan,” tuturnya.

Berikut ini ketentuan umum mengenai panduan menggunakan media sosial dalam Fatwa MUI 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial:

Ketentuan Hukum
• Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar).
• Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
• Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.
• Mempererat persaudaraan (ukhuwwah), baik persaudaraan ke-Islaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).
• Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.
• Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:
• Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.
• Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.
• Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.
• Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.
• Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.
• Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.
• Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar’i.
• Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.
• Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.
• Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.
(hld/fjp)

https://news.detik.com/berita/d-3520804/mui-keluarkan-fatwa-penggunaan-medsos-apa-saja-yang-diharamkan?_ga=2.226120154.197352117.1496935829-1710497366.1431869215

Warna dan Trauma Gambarkan Adegan Dramatis di ‘Surat Kecil untuk Tuhan’

Jakarta –

‘Surat Kecil untuk Tuhan’ menjadi film yang akan menyajikan kisah pilu dua tokohnya yang bernama Anton dan Angel. Sepasang kakak beradik itu diceritakan yatim piatu dan sebagian hidup keduanya dikisahkan begitu menyayat hati ketika berada di penampungan anak-anak jalanan.

Lewat beberapa adegan momen traumatis yang dirasakan itu dimunculkan ketika tokoh Angel beranjak dewasa dan diperankan oleh Bunga Citra Lestari.

detikHOT sempat berbincang dengan Art Director di balik film yang digarap oleh rumah produksi Falcon Pictures ini. Beda dari film-film Indonesia lainnya, permainan warna memang mendominasi adegan demi adegan yang ditampilkan di film.
Warna dan Trauma Gambarkan Adegan Dramatis di ‘Surat Kecil untuk Tuhan’Foto: Adegan di ‘Surat Kecil untuk Tuhan’ (Official Falcon Pictures)

 

Warna dasar yang dipilih untuk menjadi sentuhan di tiap adegan lantas dipilih dari warna merah, kuning, dan hijau. Warna yang dikatakan sang art director bernama Ade Gimbal di ambil dari warna lampu merah di tiap sudut jalanan.

Warna itu pula yang digambarkan menjadi bagian traumatis yang dirasakan Bunga Citra Lestari sebagai Angel.

“Trauma itu kan seperti dendam tak terbalas. Jadi ketika saat dia kecil dia sering lihat warna merah, kuning, dan hijau, nah pas besar warna-warna yang mendominasi itu nggak jauh beda. Angel dewasa nggak akan lepas dari tiga warna itu. Hanya aja, warnanya dibuat lebih soft ketimbang sebelumnya,” ujar pria yang diganjar piala Festival Film Bandung lewat film ‘My Stupid Boss’ ini.

Nantinya penonton dapat menyaksikan warna-warna itu melekat pada Bunga Citra Lestari lewat busana yang ia kenakan hingga di beberapa bagian penampilannya yang lain.

“Pas Angel kecil, warna merah kuning hijau itu kental banget. Waktu Angel pertama memutuskan kabur bersama Anton itu warna hijau lebih mendominasi, karena dari rumah pamannya bercat hijau. Makanya ketika Angel besar, warna-warna itu akan memperkuat adegan flashbacknya,” sambung Ade lagi.

‘Surat Kecil untuk Tuhan’ diadaptasi dari novel berjudul sama karya Agnes Davonar. Lewat tangan sutradara Upi, naskah novel tersebut dibuat ke dalam skenario filmnya.

Tak hanya di Jakarta, film ini juga sempat melakukan syutingnya di Sydney, Australia.

Sumber: https://hot.detik.com/spotlight/d-3524322/warna-dan-trauma-gambarkan-adegan-dramatis-di-surat-kecil-untuk-tuhan?_ga=2.89949597.786356240.1496851499-1783006085.1491493192