Kabar Warga Asyik Merekam Baku Tembak Teroris di Mojokerto

Mojokerto – Beredar broadcast telah terjadi baku tembak sejumlah orang yang dicurigai teroris di area perkebunan teh di lereng Gunung Anjasmoro, perbatasan Mojokerto dan Kasembon Malang, Jawa Timur. Polisi mengecek. Benarkah?

Isu

Disebut-sebut, baku tembak terjadi sekitar pukul 06.48 WIB, Selasa (25/4/2017). Lokasi kejadian berada di Desa Jembul, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Berikut isi pesan berantai tersebut:

Mohon ijin komendan melapaporkan kejadian kontak senjata tadi pagi tgl 25 April 2017 sekitar jam 06.48.16 WIB di area hutan perkebunan teh ds Jembul kec. Jatirejo, Kabupaten Mojokerto,
Jawatimur dilereng gunung anjasmoro timur berbatasan dgn desa pait kecamatan kasembon malang, perkiraan zona 108° LS, 110° BT sbb.:
aaa: Pelaku diperkirakan berjumlah 12 orang umur antara 30 – 40 tahun.
bbb : senjata yang digunakan diperkirakan jenis AK 47, M 16, SS 1.
ccc: OTK ( Orang tdk dikenal ) tersebut berpapasan dgn Pol sus kehutanan yg sedang berpatroli berjumlah 3 orang, maka terjadilah kontak senjata. Karena kurang jumlah maka polsus kehutanan mundur sambil mengontak pimpinan dan minta bantuan koramil dan polsek setempat. Lebih kurang 20 menit datang pasukan bantuan dgn kekuatan 14 personil koramil dan polsek dgn kekuatan senjata M 16 4 pucuk, SS 1 jumlah 2 pucuk. LE 1 pucuk, Revolver standar polri COLT SP 38 5 pucuk, FN 45 2 pucuk ( JAT MU kekuatan penuh)
ddd : OTK tersebut diperkirakan teroris sempalan kelompok SANTOSO POSO SULTENG yg tersisa dan melarikan diri ke lereng gunung anjasmoro.
eee: belum diketahui korban jiwa, sementara penduduk sekitar tdk mau diungsikan bahkan ada penduduk yang merekam kejadian tsb.
ggg: Lanjut laporan akan kami laporkan setiap 15 menit melalui komunikasi radio PPRC dan HT ALINCO DJ 196 anggota polsek DUMP Demikian untukm menjadikan periksa.

Investigasi

Polda Jawa Timur telah menelusuri informasi tersebut. Mereka mengecek ke Polres Mojokerto, kepala desa, dan Koramil setempat. Tidak ada perkebunen teh di desa tersebut.

“Juga tidak ada kejadian apapun di Desa Jembul, Jatirejo, Mojokerto, hari ini. Situasi aman dan kondusif,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera kepada detikcom.

“Sudah dicek ke koramil, dicek ke Perhutani, nggak ada apa-apa,” kata Barung.

Komandan Kodim 0815 Mojokerto, Letkol Czi Budi Pamudji mengatakan, “Di Koramil (Jatirejo) sendiri tak ada senjata. Danramil sudah saya konfirmasi, senjata sesuai petunjuk ada di Kodim. Tidak ada bantuan personel, itu yang ngasih informasi masyarakat di medsos itu siapa dan dari mana itu masih kami cek.”

Sementara Kasubbag Humas Polres Mojokerto AKP Sutarto memastikan informasi baku tembak tersebut hoax.

“Kami cek ke polsek jajaran tidak ada. Katanya TKP Desa Pait itu masuk Kasembon, tidak ada,” tandasnya

Kesimpulan

Pesan berantai soal baku tembak di Mojokerto adalah hoax.

Sumberhttps://news.detik.com/berita/d-3483285/kabar-warga-asyik-merekam-baku-tembak-teroris-di-mojokerto?_ga=2.68236307.387185522.1496851771-887016191.1496036655

Tusuk Temannya, Pelajar di Situbondo Divonis 4,5 Tahun Penjara

3cc49d40-f6a0-4c11-8e12-79fe1f3be9fc_43Situbondo – Usianya masih muda, namun sudah harus mendekam di penjara. Seorang pelajar MTs (setara SMP) di Situbondo dijatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan kurungan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Situbondo, Kamis (20/4/2017).

Terdakwa 16 tahun itu dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penganiayaan hingga menyebabkan teman sekelasnya, Abdul Rahim Al Ayubi (16), kehilangan nyawa.

Perbuatan terdakwa tersebut dianggap telah memenuhi unsur pasal 80 ayat 3 Undang-undang 35 tahun 2014, tentang Perlindungan Anak. Meski sidang-sidang sebelumnya digelar secara tertutup, namun khusus sidang putusan ini digelar terbuka, di Ruang Sidang Anak PN Situbondo. Selama persidangan, terdakwa juga didampingi orang tua dan penasehat hukumnya dari Kongres Advokat Indonesia (KAI) Situbondo.

“Perbuatan anak telah memenuhi unsur pasal yang didakwakan, yakni melakukan penganiayaan hingga menyebabkan orang lain kehilangan nyawanya. Karena itu, kami menjatuhkan hukuman 4 tahun dan 6 bulan kurungan penjara,” kata Ketua Majelis Hakim, I Made Aditya Nugraha, membacakan amar putusannya.

Baca Juga: Dua Kelompok Pelajar di Situbondo Terlibat Perkelahian, Satu Tewas
Vonis tersebut lebih ringan dibanding tuntutan jaksa, yang menuntut terdakwa dijatuhi hukuman 6 tahun penjara. Ada beberapa pertimbangan majelis hakim menjatuhkan vonis 4 tahun 6 bulan penjara terhadap terdakwa yang masih duduk di bangku kelas 2 MTs tersebut.

Pertimbangan yang meringankan, di antaranya karena terdakwa tidak pernah dihukum sebelumnya. Selain itu, perkelahian yang berujung tewasnya korban terjadi karena terdakwa ditantang oleh korban. Sementara pertimbangan yang memberatkan, karena saat kejadian terdakwa telah membawa dan menyiapkan sebilah pisau.

“Atas putusan ini, baik terdakwa, penasehat hukumnya dan penuntut umum memiliki kesempatan yang sama, yakni 7 hari untuk menanggapi. Apakah menerima, pikir-pikir, atau akan mengajukan banding,” tandas Hakim I Made Aditya Nugraha, sebelum akhirnya menutup persidangan.

Baca Juga: Reka Ulang, Penusuk Pelajar di Situbondo Sempat Minta Maaf ke Korban

Seorang siswa di Situbondo meregang nyawa setelah teribat perkelahian antar siswa. Abdul Rahim Al Ayubi (14), tewas berlumuran darah di lokasi kejadian, di lapangan Desa Demung, Kecamatan Besuki. Terdapat luka tusuk cukup dalam di bagian pangkal leher siswa kelas dua sebuah MTs tersebut.

Melihat korbannya ambruk, pelaku dan beberapa temannya yang juga diduga pelajar langsung melarikan diri. Jenazah pelajar asal Dusun Pagar Carang, Desa Buduan, Kecamatan Suboh, itu dievakuasi warga dan sejumlah temannya ke kamar jenazah RSU Besuki.

Namun tak lama berselang, pelaku penusukan diserahkan pihak ponpes tempatnya mencari ilmu ke polisi. Pelaku ternyata teman sekelas dengan korban di bangku sekolah. Perkelahian terjadi, konin karena pelaku terus ditantang oleh korban untuk duel.
(fat/fat)

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3479705/tusuk-temannya-pelajar-di-situbondo-divonis-45-tahun-penjara?_ga=2.68236307.387185522.1496851771-887016191.1496036655

BERKEMBANG DARI MULUT HINGGA MUSIK MODERN

”Saoooor, saoooor, saooor. Samangkén nâpa’ bâktona asaor. Toré abungo,” kata H. M. Dradjid, B.A mengenang masa kecilnya. Kalimat ajakan orang untuk bangun tidur dan santap sahur itu dia lakoni 61 tahun lalu.

PUASA dan patrol sahur seakan tak dapat dipisahkan. Terutama di pedesaan. Tiap bulan Ramadan, patrol selalu ada. Selalu muncul.

Orang terbiasa dengan bunyi-bunyian yang dimainkan malam hari ini. Tidak ada yang protes. Alat musik yang digunakan pun beragam. Ada yang sangat sederhana. Seperti pada edisi sebelumnya, yang hanya menggunakan barang bekas.

Ada pula yang menggunakan perabot dapur. Ada pula yang menggunakan potongan bambu atau kayu. Intinya; asal bisa mengeluarkan bunyi.

M. Dradjid merupakan salah seorang saksi hidup perkembangan musik patrol dari masa ke masa di Madura. Usianya menginjak 77 tahun. Lebih 5 bulan. Semasa kecil, dia kerap terlibat patrol. Dia biasa ikut serta membangunkan orang tidur untuk menunaikan ibadah sahur
Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Dradjid mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan patrol itu lahir di Pulau Garam. Tapi, dia yakin, penamaan patrol bukan disandangkan oleh warga Madura. Sebab, bahasa patrol itu berasal dari Jawa.

Mendengar nama patrol, dia harus membuka memori semasa kecilnya. Tepatnya pada 1956, 61 tahun yang lalu. Waktu itu, kakek dengan sepuluh cucu itu berada di Pulau Raas, Sumenep. Di pulau yang warganya mayoritas bekerja di Pulau Dewata itu, dia kali pertama menyaksikan patrol.

Menurut Dradjid, aktivitas patrol yang dia lihat pada waktu duduk di bangku sekolah menengah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun alat musik. Puluhan warga membangunkan warga dengan bersorak sahur.

Suara itu dilantunkan dengan nada yang sangat merdu. Perpaduan suara timbre dari puluhan warga menimbulkan simfoni yang indah, bahkan teramat indah.

Tak ayal, warga yang masih terlelap dengan mimpi-mimpinya perlahan bangun. Kemudian, menjalankan ibadah sahur. ”Tidak ada musik apa pun. Peserta patrol murni hanya pakai mulut,” katanya.

Menurut Dradjid, waktu itu aktivitas tersebut terus mengalami perkembangan. Perbedaan yang paling terlihat terletak pada media patrol. Warga yang semula hanya pakai mulut, berkembang dengan kombinasi musik yang menggunakan alat-alat dapur.

Penggunaan alat-alat dapur tidak bertahan lama. Entah tahun berapa tepatnya. Warga mulai menggunakan kentungan (thongthong). ”Terus mengalami perkembangan yang sangat pesat,” kata Dradjid.
Pada 1970, warga patrol juga dilakukan warga Sampang. Tapi, masyarakat Kota Bahari itu tidak menamakan patrol. Tapi, ul-daul. Aktivitasnya sama, peralatan yang digunakan juga sama. Hanya ditambah beberapa alat musik seperti beduk.

Kemudian, perkembangan sangat pesat juga terjadi di Pamekasan. Warga Kota Gerbang Salam mengolaborasi alat musik tradisional dengan alat musik modern. ”Sudah pakai musik tentatonik. Ada gitar, piano, dan musik modern lainnya,” jelasnya.

Dosen di salah satu perguruan tinggi ini berharap, perkembangan terus terjadi. Dengan demikian, kreativitas masyarakat semakin tereksplorasi. Tentu, dengan tidak menghapus nilai-nilai luhur yang tertanam dalam aktivitas tersebut. (pen/luq)

Sumber http://radarmadura.jawapos.com/read/2017/06/07/8961/-berkembang-dari-mulut-hingga-musik-modern/3